PEREKONOMIAN CHINA DAN DEVALUASI YUAN

Pemandangan Indah Danau Hangzhou
Fb-Button

hd1

Awal tahun 2016 Amerika akan berada pada momentum pelonggaran Quantitative easing yg agresif , China akan menghadapi tekanan untuk melepas peg (patok) pada mata uang Dollar dan men-Devaluasi Yuan.

 

Ketika sebuah negara mematok / Peg, mata uangnya ke mata uang negara yang lebih besar seperti dolar AS. Negara tersebut mendapat beberapa keuntungan ,seperti displin dalam menjalankan kebijakan moneter dan membiarkan negara yg lain ,Amerika memikirkan kebijakan2 kontroversial seperti QE dll.

 

Jika mata uang negara yg di Peg stabil tidak fluktuatif, kebijakan ini aman2 saja. Tapi sisi negatif nya,ketika negara yg dijadikan acuan Peg mata uang nya ,Ternyata salah langkah dalam menjalankan kebijakan moneternya. Maka negara yg mematok mata uang nya akan menjadi korban.

Saat mata uang Dollar menguat dan Naik dari mata uang Euro dan negara2 lain. Yuan China yg dipatok terhadap Dollar ikut naik. Sehingga barang2 China menjadi lebih mahal 20% Di Eropa. Ini Jelas mengurangi daya saing barang2 ekspor China.

 

Pelemahan ini tercermin dari pertumbuhan ekonomi China yg terus melambat dari 7,3% awal tahun 2015 menjadi 7% diakhir tahun 2014.

wed

Pertumbuhan ekonomi China melambat awal tahun 2015. Pelemahan di sektor-sektor kunci dari ekonomi terbesar kedua di dunia ini masih belum pulih, Beijing berusaha keras untuk mengeluarkan n kebijakan yang tepat untuk menopang aktivas pertumbuhan ekonomi

Langkah-langkah untuk mendukung sektor properti dan serangkaian kebijakan pemotongan suku bunga dan persyaratan cadangan bank telah diluncurkan , tapi hasilnya jauh dari harapan ,efeknya terjadi lonjakan harga di bursa saham. Sampai2 calon nasabah saham harus antri di sekuritas untuk membuka rekening . Banyak analis berpendapat China akan segera meluncurkan stimulus2 baru lainnya.

 

Jumlah ekspor maupun impor China menurun. Surplus perdagangan pun ikut menurun , untuk bulan Maret surplus $ 34,14 miliar dibanding forecast prediksi $ 39.45miliar.

Melemahnya permintaan baik dalam dan luar negeri, membuat ekonomi China melambat. Pertumbuhan ekonomi tahun ini hanya 7%.Terendah dalam 24 tahun terakhir dan dibawah ekspetasi pemerintah. Walaupun banyak analis berpendapat China hanya tumbuh 5% saja.


Perlambatan China diperkirakan akan terus berlanjut selama beberapa tahun. Pekan lalu, Dana Moneter Internasional (IMF) memprediksi pertumbuhan China akan stabil pada sekitar 6% pada 2017. Penurunan suku bunga menunjukkan data yang akan diterbitkan minggu ini, output industri dan investasi, juga mungkin mengecewakan. Masalah ekonomi negara China juga mencakup pasar properti, yang cooling down setelah hancur karena aksi spekulatif dari para spekulan properti.

 

Bank sentral mengatakan dalam sebuah pernyataan: “ekonomi China masih menghadapi tekanan ke bawah relatif besar.”

Pada saat yang sama, tingkat harga domestik masih rendah, dan tingkat bunga riil [suku bunga relatif terhadap inflasi] masih lebih tinggi dari rata-rata historis.”

Pada awal 2016 Amerika Serikat dan Cina akan berada dalam mode pelonggaran yang agresif, dengan kemungkinan putaran QE lainya di AS. China, sementara itu, akan berada dibawah tekanan yang meningkat untuk melepas peg Yuan terhadap Dollar dan mendevaluasi Yuan. #

Twitter : @SahamGoodwin

Semoga Keberhasilan & Keberuntungan selalu Lancar mengalir dalam hidup Anda 😀 Tolong di Share…Terima kasih 😀

 

 

Fb-Button