
Hari ini Indeks Saham Bursa Shanghai anjlok -8.45% dalam sehari dan rupiah tembus Rp 14.000 /dollar. Para investor seluruh dunia pada panik, bahwa perekonomian dan kemakmuran China bakal hancur lebur. Tapi benarkah demikian ?
Mari kita lihat kondisi pasar saham di China . Bursa-bursa di China tidak terhubung ke ekonomi secara luas seperti yang di pasar saham negara Barat. Bahkan hanya 5 persen dari seluruh warga China memiliki saham.
Pasar saham di China sebagaian besar lebih mirip arena spekulasi bagi sekelompok investor. Setelah margin disapu bersih dan banyak yg cutloss , market akan naik lagi koq. Ini adalah lingkaran siklus cycles biasa pasar modal .
Bukti terbaik dari data ini adalah bahwa ketika pasar saham China naik 75 persen, 100 persen, 150 persen selama 18 bulan terakhir, perekonomian secara keseluruhan tidak membaik sesuai naiknya harga saham-saham di bursa dan rata-rata warga China tidak jadi kaya. Hal yang sama berlaku sekarang bahwa pasar telah anjlok . Perekonomian tidak hancur berantakan dan rata-rata warga negara China tidak miskin.

Mengenai devaluasi terbaru dalam yuan, fakta-fakta dan kondisi memang berbeda tetapi hasil akhirnya adalah sama.
Mata uang China karena di Peg terhadap mata uang dollar(seperti yg kita tahu dollar terus menguat), telah menguat sebesar 25-30 persen terhadap sebagian besar mata uang utama dunia selama delapan tahun terakhir ini .
Penyesuaian devaluasi 3 persen sampai 4 persen pun tidak akan berdampak besar pada perekonomian secara keseluruhan
Penjelasan untuk penyesuaian yuan cukup sederhana. Ekspor masih merupakan bagian penting dari perekonomian China dan karena upah tenaga kerja dan bahan baku sudah naik di China, lebih sulit untuk bersaing dengan negara-negara lain
Langkah Beijing adalah rencana jangka pendek untuk membantu meningkatkan ekspor dengan membuat harga barang2 jadi relatif lebih murah. Sementara itu, fokus utama pemerintah masih bergerak lebih pertumbuhan GDP ke industri konsumsi dan jasa.
Penurunan Bursa saham dan devaluasi mata uang Yuan China menandakan penyesuaian sehat untuk ekonomi .
Ekonomi China sedang memasuki baru, fase yang lebih matang dengan penyesuaian dengan cara dan style China sendiri.
Dalam jangka panjang ekonomi China akan terus tumbuh dan jutaan warga China akan urbanisasi ke kota-kota besar dan menjadi konsumen kelas menengah.
Gelembung bubble pasar saham yg meletus dan penyesuaian devaluasi yuan adalah tanda-tanda bahwa perubahan dari kebijakan China yg dulu hanya berfokus pada pertumbuhan karena ekspor ke pertumbuhan ekonomi yg didorong oleh konsumsi dan jasa, menjadi PR yg harus diselesaikan.
Jangan lupa ada 350 juta konsumen kelas menengah di China, dengan income pendapatan hampir $ 800 miliar dollar. China berada di urutan no dua memiliki jumlah orang2 terkaya , setelah Amerika.
Peristiwa crash bursa saham dan devaluasi yuan baru-baru ini adalah tanda ekonomi China mulai beranjak dewasa.
Hanya panik sesaat short term dan untuk jangka panjang Prospek ekonomi China masih cerah dan bertumbuh kembali .
Dan karena China adalah partner dagang terbesar dengan lebih 120 negara di dunia, tak heran bursa-bursa saham dunia ikut turun termasuk Indonesia. Saat tsunami bursa saham China sudah selesai dan bangkit kembali, Idx bursa saham kita juga bakal ikut bangkit.








