JUDUL BUKU THE INTELLIGENT INVESTOR
REBALANCING PORTOFOLIO \ MENYESUAIKAN PORTOFOLIO
Benjamin Graham pengarang buku Intelligent Investor ini adalah seorang ahli keuangan yg professional.
Instrumen Obligasi , ETF , Money market , REITS , dan komoditas serta instrumen keuangan lainnya adalah mainan nya sehari-hari. So sudah pasti, dia sangat paham semua instrumen2 ini.
Sementara investor saham pemula. Yg mereka ketahui paling hanya diseputar saham dan turunanya seperti warrant, right issue dan deviden.
Dan bingung ketika ,Graham menyinggung tentang Rebalancing Portofolio yg melibatkan banyak instrument keuangan.
Ini ilmu yg dikuasai para Fund Manager dan yg lebih canggih lagi teknik Hedging dari para Hedge Fund Manager .
Adalah lumrah bila investor pemula sulit menanggap teori rebalancing ini. Yang penting investor pemula dapat info dulu deh,tentang dasar2 dari rebalancing portofolio. Mari kita belajar bersama-sama.
Ok mari kita mulai :Rebalancing portofolio dan weighting adalah alat bantu yg sangat berguna dalam manajemen resiko Investasi. Hal yg sangat penting bagi seorang investor, terutama Value Investor/Investor Nilai. .
Portofolio Weighting/ Pembobotan Portofolio
Adalah : Persentase dari aset diportofolio kita .
Sebagai bagian dari alokasi dana investasi. Seorang investor harus mengukur bobot portofolionya dalam kelas asset, kategori, sektor, saham individu, dll
*Perhitungan bobot/weight portofolio ditentukan dengan membagi nilai sekarang dari asset dengan nilai total portofolio.
Rebalancing portofolio:
adalah tindakan membeli dan menjual aset-aset untuk mencapai bobot yang Anda inginkan di setiap asset.
Hal ini sangat penting ketika merencanakan pengalokasian asset Anda ke jenis-jenis asset (yaitu saham, obligasi, kas, dll).
Rebalancing portofolio diperlukan karena perubahan harga aset atau karena Anda ingin mengubah alokasi asset ketika target keuntungan tercapai(reweighting).
Bobot portofolio harus ditentukan oleh tingkat keyakinan Anda akan asset yg dimiliki. Faktor utama untuk Value investor adalah Nilai atau Valuasi asset tersebut. Nilai Asset dengan Margin Of Safety MOS terbesarlah yg pantas memiliki bobot terbesar.
Rebalancing Karena Perubahan Harga Aset.
Seiring waktu, harga asset dalam portofolio akan berubah . Hal ini membuat posisi portofolio menjadi lebih beresiko dan return hasil menjadi tidak konsisten terhadap target dan jumlah resiko yg bisa diterima investor.
Saat bobot beberapa aset meningkat ,ini membuat persentase mereka menjadi lebih besar dalam portofolio; pada saat yang sama, aset pembobotan jatuh turun membuat persentase mereka mengecil dalam portofolio.
Jika seorang investor tidak menyeimbangkan portofolio secara bertahap, kondisi portofoli akan menjadi High return dan High Risk . Return yang tinggi yg diiringi Resiko tinggi.
Rebalancing portofolio memaksa investor untuk Buy Low , Sell High (membeli harga rendah dan menjual di harga tinggi).
Sebagai contoh:
Katakanlah Anda memiliki target alokasi asset 40% untuk kategori aset A dan target alokasi asset 40% untuk kategori aset B.
Kemudian mari kita asumsikan asset A meningkatkan 50% dan asset B turun sebesar 50%.
Sekarang Anda memiliki 3 kali lebih banyak asset A dibandingkan dengan asset B karena asset A telah meningkat menjadi 60% dari portofolio dan asset B turun sampai 20% dari portofolio.
Presentase Portofolio pertama :
A 40% harga Rp 1000 40%
B 40% harga Rp. 1000 40%
C 20 % harga Rp. 1000 20%
=================================
Total 100%
Presentase Portofolio setelah perubahan harga:
Harga Asset A naik 50% jadi Rp 1500 60%
Harga Asset B turun 50% jadi Rp 500 20%
Harga Asset C tetap Rp 1000. 20%
==================================================
Total 100%
Setelah fluktuasi harga ini, tidak saja alokasi asset Anda menjadi tidak seimbang, tapi sekarang Anda memiliki lebih banyak dari asset atau kategori yang baru saja naik 50% yg mungkin saja sudah Overvalue / dinilai terlalu tinggi (Asset A).
Dan kurang stok asset yg turun (Asset B) yg mungkin saja sudah undervalued. Rebalancing memungkinkan investor untuk menjual asset yang naik tinggi dan Overvalued lalu membeli asset yg turun dan sudah Undervalued .






